Beranda: GeoStunting Indonesia
Sistem Precision Targeting MBG Berbasis Geospatial Machine Learning
Hybrid GWR-RF 514 Kab Real Data Anggaran Netral
LIVE DATA
68 Kabupaten Zona Merah — rata-rata stunting 34,5% Dana Zona Merah saat ini: Rp9,73T dari Rp335T (hanya 2,9%) Deficit tahunan: Rp80,02T — dana yang semestinya sampai ke Zona Merah 16 kabupaten 0 unit SPPG — semuanya di Zona Merah Model GWR-RF: R² = 0,628 · 1,7× lebih akurat dari OLS Target RPJMN 2029: Stunting turun ke 14,2% (saat ini 19,8%) Spearman ρ = −0,519 · Risiko tinggi justru minim SPPG 68 Kabupaten Zona Merah — rata-rata stunting 34,5% Dana Zona Merah saat ini: Rp9,73T dari Rp335T (hanya 2,9%) Deficit tahunan: Rp80,02T — dana yang semestinya sampai ke Zona Merah 16 kabupaten 0 unit SPPG — semuanya di Zona Merah Model GWR-RF: R² = 0,628 · 1,7× lebih akurat dari OLS Target RPJMN 2029: Stunting turun ke 14,2% (saat ini 19,8%) Spearman ρ = −0,519 · Risiko tinggi justru minim SPPG
Inovasi Kebijakan Gizi Indonesia 2026

Anggaran Besar,
Sasaran yang Tepat.

Indonesia mengalokasikan Rp335 triliun untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun data membuktikan bahwa daerah paling membutuhkan hanya menerima 3% dari total anggaran. GeoStunting hadir untuk mengoreksi ketimpangan ini secara terukur, tanpa tambahan anggaran sepeser pun.

19,8%
Prevalensi Stunting
Nasional (SSGI 2024)
Rp335T
Anggaran MBG 2026
Pos APBN terbesar
514
Kab/Kota dianalisis
38 Provinsi
19,8%
stunting
Target 2029: 14,2%
5,6 poin lagi
NASI LAUK SAYUR SUSU MBG SUSU MBG 2026
Masalah: Paradoks Distribusi SPPG

Distribusi fasilitas gizi (SPPG) bersifat supply-driven sehingga lebih mengikuti kondisi infrastruktur yang ada daripada peta kebutuhan aktual. Kondisi ini menghasilkan korelasi negatif yang signifikan antara jumlah SPPG dan tingkat risiko stunting (Spearman ρ = −0,519, p < 0,001).

Zona Merah (68 Kab)
Rp 9,73T
Hanya 2,9% distribusi aktual
padahal stunting rata-rata 34,5%
Rata-rata 10,5 unit SPPG per kab
Zona Hijau (263 Kab)
Rp 243,2T
Menguasai 72,6% distribusi aktual
padahal stunting rata-rata hanya 17,4%
Rata-rata 66,8 unit SPPG per kab
16 kabupaten di Indonesia timur dengan prevalensi stunting tertinggi sama sekali tidak memiliki unit SPPG. Sementara Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang masuk sepuluh besar stunting terendah mendominasi jumlah SPPG nasional.
Solusi: Bagaimana GeoStunting Bekerja?

GeoStunting mengintegrasikan 6 sumber data resmi pemerintah ke dalam model kecerdasan buatan berbasis lokasi (Hybrid GWR-RF) untuk menghasilkan Composite Risk Score (CRS) bagi setiap kabupaten/kota di Indonesia.

01
Kumpulkan Data
6 sumber data resmi: SSGI 2024, BPS, Kemenkes, Kemendikdasmen, BIG, dan BGN mencakup 514 kab/kota.
02
Proses & Rekayasa
Harmonisasi data, imputasi nilai hilang, dan rekayasa 8 fitur turunan yang merepresentasikan risiko multidimensi.
03
Model Spasial
Hybrid GWR-RF menghasilkan R²=0,628, hampir 2× lebih akurat dari OLS konvensional (R²=0,36).
04
Skor & Zonasi
Setiap kabupaten mendapat CRS 0-100. K-Means clustering menghasilkan 3 zona prioritas MBG yang terverifikasi.
3 Zona Prioritas MBG

Berdasarkan Composite Risk Score, seluruh 514 kabupaten/kota diklasifikasikan ke dalam 3 zona. Zona ini menentukan berapa besar anggaran MBG yang seharusnya dialokasikan ke setiap daerah.

68
Zona Merah
Kabupaten dengan kebutuhan gizi paling mendesak. Terkonsentrasi di Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan NTT.
Skor CRS43,5 – 82,5
Stunting rata-rata34,5%
Alokasi ideal26,79%
Alokasi aktual2,9%
183
Zona Kuning
Kabupaten dengan risiko sedang. Mendominasi Kalimantan, Sulawesi, sebagian Sumatera, NTB dan NTT sebagai wilayah transisi.
Skor CRS24,5 – 43,1
Stunting rata-rata26,6%
Alokasi ideal39,3%
Alokasi aktual24,5%
263
Zona Hijau
Kabupaten dengan risiko relatif rendah. Mendominasi Jawa, Bali, dan sebagian Sumatera Barat — infrastruktur sudah memadai.
Skor CRS5,9 – 24,4
Stunting rata-rata17,4%
Alokasi ideal33,91%
Alokasi aktual72,6%
Simulator Realokasi Anggaran MBG LIVE Ideal Tercapai!
Geser slider untuk melihat dampak perubahan alokasi ke Zona Merah secara langsung
Distribusi Aktual SPPG
Zona Merah
2,9%
Zona Kuning
24,5%
Zona Hijau
72,6%
GeoStunting
CRS
Hasil Simulasi
Zona Merah
2,9%
Zona Kuning
24,5%
Zona Hijau
72,6%
Alokasi ke Zona Merah 2,9%
Rp 9,73T
Dana Zona Merah/Tahun
+Rp 0T
Tambahan vs Aktual
Kelipatan dari Aktual
Total anggaran tetap Rp335T · Anggaran Netral
Ke Mana Rp335 Triliun MBG Mengalir?
Visualisasi real aliran dana aktual — ukuran aliran merepresentasikan proporsi anggaran ke tiap zona
Rp335T Anggaran MBG 2026 · APBN Zona Merah 2,9% 68 Kab · Rp 9,73T · Stunting 34,5% Zona Kuning 24,5% 183 Kab · Rp 82,1T · Stunting 26,6% Zona Hijau 72,6% 263 Kab · Rp 243,3T · Stunting 17,4% Hanya 2,9%! ▲ 72,6% mengalir sini
Zona Merah (butuh paling banyak, dapat paling sedikit)
Zona Hijau (sudah mapan, menerima terbesar)
Ukuran aliran = proporsi dana aktual
DARURAT
16 Kabupaten Zona Merah Tanpa Satu Pun Unit SPPG

Keenam belas kabupaten ini berada di Zona Merah dengan tingkat stunting di atas rata-rata nasional, namun tidak memiliki satu pun unit SPPG yang aktif. Total anak yang tidak terlayani: lebih dari 1,2 juta anak.

Temuan Kunci GeoStunting
Selisih Rp80 Triliun/tahun dari Zona Merah.
Semua bisa dikoreksi tanpa tambah anggaran.

Simulasi realokasi berdasarkan CRS menghasilkan total distribusi yang identik dengan target MBG bulanan Rp27,917T, namun dengan proporsi yang jauh lebih adil dan berdampak nyata bagi anak-anak di Zona Merah.

Prevalensi Stunting Nasional
19,8%
SSGI 2024 · Ambang darurat WHO: 20%
Hanya 0,3 poin dari zona krisis
Anggaran MBG 2026
Rp335T
Pos APBN terbesar · Rp27,92T/bulan
Laju penurunan stunting: 1,58%/tahun
Total SPPG Aktif Nasional
24.204
514 Kab/Kota · 38 Provinsi
16 kabupaten tanpa SPPG — semua Zona Merah
Spearman ρ (SPPG vs CRS)
−0,519
p = 0,000 · Korelasi negatif signifikan
Risiko naik SPPG turun (paradoks sistemik)
Distribusi 3 Zona Prioritas MBG
Berdasarkan Composite Risk Score (CRS) · K-Means k=3
Peta Interaktif Zona Prioritas MBG
Klik wilayah untuk melihat detail · Warna = tingkat risiko stunting
Perbandingan Distribusi Anggaran
Aktual vs Ideal berdasarkan CRS (% dari total)
Stunting Rata-rata per Zona
Semakin merah semakin tinggi beban stunting
Top 10 Kabupaten — CRS Tertinggi (Prioritas Utama MBG)
Kabupaten Zona Merah — Penerima Prioritas Intervensi
Diurutkan berdasarkan Composite Risk Score tertinggi
RankKabupaten/KotaProvinsiZona CRSStuntingKemiskinanSPPGAlokasi Ideal/Bln
Jelajahi data lengkap 514 kabupaten/kota Indonesia dengan Composite Risk Score, data stunting, kemiskinan, infrastruktur, dan alokasi anggaran ideal. Gunakan filter di bawah untuk mencari daerah tertentu. Klik nama kabupaten untuk melihat detail.
68
Kabupaten
Zona Merah
183
Kabupaten
Zona Kuning
263
Kabupaten
Zona Hijau
514
Ditampilkan
Saat Ini
Data Analitik 514 Kabupaten/Kota Indonesia
Memuat data...
RankKabupaten/KotaProvinsiZona CRS (0–100)Stunting %Kemiskinan %IPM SPPGPuskesmasRasio PIP % Sanitasi %Air Minum %LISAAlokasi/Bulan
Simulasi bersifat anggaran netral = Rp335 Triliun. Redistribusi murni berdasarkan Composite Risk Score (CRS) via mekanisme 2-Step Burden Weight. Total = Rp27,917T/bulan ≡ target MBG bulanan. Tidak perlu tambahan anggaran sepeser pun. Ini adalah koreksi arah, bukan koreksi anggaran.
Distribusi Aktual vs Alokasi Ideal GeoStunting
Gap antara "apa yang terjadi" dan "apa yang seharusnya terjadi"
Distribusi SPPG Aktual
Zona Merah 2,9%
Zona Kuning 24,5%
Zona Hijau 72,6%
Dampak
Daerah paling membutuhkan hanya mendapat Rp9,73T/tahun dari total anggaran Rp335T.
GeoStunting
Berbasis CRS
Alokasi Ideal GeoStunting
Zona Merah 26,79%
Zona Kuning 39,3%
Zona Hijau 33,91%
Dampak Ideal
Zona Merah menerima Rp89,75T/tahun9× lebih besar dari saat ini.
Mekanisme 2-Step Burden Weight — Rumus Aktual GeoStunting
Step 1 — Alokasi Per Zona (Proporsional terhadap Beban Risiko)
Anggaran_Bulanan = Rp335T ÷ 12 = Rp27,917T/bulan
Raw_z = N_kab_z × CRS_mean_z mengukur total beban risiko per zona
DIST_IDEAL_z = Raw_z / Σ Raw_z × 100%
Step 2 — Alokasi Per Kabupaten (Proporsional terhadap CRS individual)
Bobot_i = CRS_i / Σ CRS_j (j ∈ zona_z) kabupaten risiko tertinggi dapat lebih banyak
Alokasi_Bulanan_i = Bobot_i × Pot_Zona_z
Validasi: Σ Alokasi_Bulanan (514 kab) = Rp27,917T ≡ Budget MBG Bulanan Pemerintah
Gap Distribusi Aktual vs Alokasi Ideal per Zona
Spearman ρ = 1,000 · p = 0,000 · Distribusi deterministik berbasis CRS
ZonaN KabMean CRS Distribusi Aktual (SPPG)Alokasi Ideal GeoStunting GapStatusSelisih/Tahun
MERAH 68 56,17 2,9% ≈ Rp9,73T/thn 26,79% ≈ Rp89,75T/thn +23,9% Defisit Ekstrim −Rp80,0T
KUNING 183 30,62 24,5% ≈ Rp82,1T/thn 39,3% ≈ Rp131,65T/thn +14,8% Defisit Sedang −Rp49,6T
HIJAU 263 18,38 72,6% ≈ Rp243,2T/thn 33,91% ≈ Rp113,6T/thn −38,7% Surplus Signifikan +Rp129,6T
Gap Alokasi Ideal vs Aktual (Rp Triliun/Tahun)
Positif = kurang didanai · Negatif = kelebihan dana
Alokasi Ideal Bulanan per Zona (Anggaran Netral )
Total Rp27,917T/bulan ≡ target MBG bulanan pemerintah
Top 20 Kabupaten — Alokasi Ideal Tertinggi per Bulan
Penerima Prioritas Utama Redistribusi MBG
Diurutkan berdasarkan Composite Risk Score tertinggi
#KabupatenProvinsiZona CRSStunting %Kemiskinan % Alokasi/BulanAlokasi/Tahun

GeoStunting — Metodologi & Validasi

Sistem precision targeting MBG berbasis Hybrid GWR-RF yang mengintegrasikan 6 sumber data resmi pemerintah untuk menghasilkan Composite Risk Score (CRS) seluruh 514 kabupaten/kota Indonesia secara berbasis kebutuhan aktual dan anggaran netral.

Performa Model
0,628
R² Hybrid GWR-RF
Hampir 2× lipat OLS
0,360
R² OLS Konvensional
Tidak memadai
0,503
Global Moran's I
p = 0,001 (Klaster nyata)
87%
Reduksi Autokorelasi
Residual (Moran's I)
Pipeline 4 Layer Sistem GeoStunting
LAYER 1
Data Input
SSGI 2024 (PDF 352 hal.)
BPS: Kemiskinan & IPM
BPS: Sanitasi & Air Minum
Kemenkes: Faskes Nasional
Kemendikdasmen: PIP
BGN: Persebaran SPPG
LAYER 2
Preprocessing
pdfplumber + Regex Parser
rapidFuzz Fuzzy Matching
MICE BayesianRidge
Feature Engineering
8 Fitur Turunan
Spatial Lag (Queen+KNN)
LAYER 3
Pemodelan Spasial
GWR Bisquare Adaptif (AICc)
Bandwidth: 125 Kab/Kota
Random Forest 300 Trees OOF
Hybrid GWR-RF
Moran's I + LISA (999 perm.)
K-Means k=3 Zonasi
LAYER 4
Output Sistem
Peta Interaktif Folium HTML
Laporan Excel 5-Sheet
GeoPackage + Pickle Model
CRS 0–100 (514 Kab)
Simulasi Anggaran Rp335T
Web App Intelligence
Perbandingan Akurasi Model
Hybrid GWR-RF vs OLS Konvensional — hampir 2× lebih akurat, reduksi autokorelasi 87%
Feature Importance — Random Forest
Spatial Lag Kemiskinan adalah prediktor terkuat (34,17%)
Composite Risk Score — 7 Komponen Berbobot
Bobot mencerminkan kontribusi aktual setiap dimensi berdasarkan hasil pemodelan
Distribusi LISA — Autokorelasi Spasial Stunting Nasional
Global Moran's I = 0,503 (p=0,001) · Stunting berpola klaster geografis, bukan acak
High-High (Hotspot)
56
Stunting tinggi, dikelilingi daerah stunting tinggi. Klaster paling kritis.
Low-Low (Coldspot)
10
Stunting rendah, dikelilingi daerah stunting rendah. Area aman.
Low-High (Outlier)
62
Stunting rendah di tengah wilayah berisiko tinggi. Perlu perhatian khusus.
Not Significant
386
Tidak membentuk klaster spasial yang signifikan. Analisis individual diperlukan.
Sumber Data & Dataset yang Digunakan
6 Sumber Data Resmi Pemerintah Indonesia
DatasetSumberFormatVariabel Utama
Prevalensi Stunting per Kab/KotaSSGI 2024, Kemenkes RIPDFStunting (%)
Sosial-Ekonomi Kab/KotaBPSXLSX/CSVTingkat kemiskinan, IPM
Infrastruktur Sanitasi & AirBPSXLSX/CSVAkses sanitasi layak, akses air minum layak (%)
Batas Administrasi SpasialBIG (Shapefile)SHP/GeoJSONGeometri polygon 514 kab/kota
Data PIP/KIPKemendikdasmenXLSX/CSVJumlah penerima PIP per kab/kota
Fasilitas Kesehatan & SPPGKemenkes RI + BGNXLSX/CSVPuskesmas, posyandu, unit SPPG aktif